Sergap -News.site

Begitu memasuki masa purnatugas 2 tahun silam, pria bertubuh tambun ini menghabiskan waktunya menjadi marbot masjid. Keputusan itu diambil atas keinginan sendiri.”Awalnya saya bantu-bantu. Lalu saya putuskan sepenuhnya menghabiskan sisa usia saya dengan memelihara masjid ini,” ucap Suyono saat ditemui di Masjid Nurul Iman, Lingkungan Ngampel, Ploso, Pacitan

Perjalanan bapak dua putra menuju pencerahan tidaklah berlangsung singkat. Selama memangku tugas penegak hukum, Suyono mengaku jarang datang ke masjid. Kesibukan bekerja bahkan acap kali memaksanya meninggalkan kewajiban kepada Sang Khalik.

Ingar-bingar duniawi membuat Suyono kian jauh terbawa kehampaan hidup.Kegalauannya makin memuncak saat mendapati beberapa rekan seangkatannya meninggal pada usia muda.

Beberapa orang lainnya menderita sakit tanpa sebab. Di tengah kecamuk perasaan takut nasib serupa menimpa, suami Kiptiyah (56) ini memutuskan mengabdikan diri untuk agama. Dia pun bersyukur masih mendapat kesempatan mengisi sisa usianya untuk kebajikan.

“Setelah melihat itu semua, saya tergugah. Lo, saya masih diberi kesehatan ini untuk apa, ya? Tidak lain ya hanya untuk beribadah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Saat takmir terbentuk, memang ada dua warga yang ditetapkan menjadi petugas pemelihara masjid. Salah satunya Suyono. Panitia pun menganggarkan dana bulanan untuk uang lelahnya. Namun saat uang akan diserahkan, tanpa sungkan Suyono menolaknya.

Bahkan dirinya mengancam berhenti jadi marbot jika dipaksa menerima honor.Keseharian Suyono memang lebih banyak dihabiskan di masjid yang berjarak hanya 50 meter dari rumahnya.

Bersih-bersih, mengepel lantai, hingga menyiram halaman masjid menjadi rutinitas Suyono tiap hari.Suaranya pun kerap terdengar melalui pengeras suara mengumandangkan seruan azan hampir di tiap waktu salat wajib.

Pun saat ada warga meninggal, Suyono-lah yang pertama kali menyiarkan melalui corong.Bagi warga sekitar, keseharian Suyono dekat dengan sikap suka menolong.

Di banyak kesempatan, dia selalu berada di depan untuk kegiatan kemasyarakatan. Tak hanya di bidang peribadahan, pria kelahiran Kecamatan Pringkuku tersebut juga dikenal rajin kegiatan lingkungan. Seperti kerja bakti maupun membantu warga yang berduka.

“Memang sejak pensiun beliau cukup aktif di lingkungan. Kami sangat senang karena beliau juga masjid kita ini selalu bersih dan terawat,” papar Didik Purwoko, Ketua RT 02 Ngampel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *